Langsung ke konten utama

Postingan

Review Buku The Psychology of Money Karya Morgan Housel

Morgan Housel dengan “The Psychology of Money”nya mencoba membagikan kiat-kiat untuk menghadapi pertunjukan terbesar di bumi. Pertunjukan tentang hal yang dinamis tetapi penuh ambiguitas. Pertunjukan yang tak pernah lepas dari unsur kehidupan kita sebagai manusia dengan sifat kerakusan masing-masing. Disampaikan menggunakan gaya cerita yang bersumber dari berbagai kisah menarik nan elegan. Yakni, pertunjukan keuangan. Sesering apa Anda mendengar seseorang yang sangat kaya tiba-tiba bangkrut tanpa dihadiri kisi-kisi kejatuhannya? Sesering apa dengan sebaliknya? Morgan Housel tidak mengajak kita mempelajari teori-teori keuangan yang dikuasai orang-orang kaya sehingga mencapai kekayaan digdayanya, tetapi dengan emosional yang kita miliki. Apakah teori investasi yang kita kuasai akan membuat kita kaya meski berperilaku tamak? Uang nyatanya datang dan pergi karena gaya psikologi kita. Mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kita dan ternyata lebih banyak berhubung...

Review Buku Factfulness by Hans Rosling | Sepuluh Alasan Kita Keliru Tentang Dunia-dan Segalanya Lebih Baik daripada yang Kit

  Factfulness adalah buku tentang dunia dan bagaimana dunia sesungguhnya. Hans Rosling menginginkan kita sadar akan kebenaran dunia yang indah. Mengajak kita dengan melihat data untuk mereduksi dramatisasi otak kita terhadap wawasan dunia,   menyadari kemajuan yang berjalan, mengoptimasi rasa curiga, hingga berhati-hati dengan generalisasi yang berbahaya. Senjata pamungkas yang Hans gunakan untuk membuktikan kebodohan kita dengan 13 soal di pendahuluan akan membuat kita sadar begitu tidak pantasnya kita berada di abad modern ini. Bersama Ola Rosling dan Anna Rosling menyampaikan data-data dengan ciamik dan asyik untuk kita nikmati, Hans Rosling akan mengantarkan kita bagaimana memahami dunia yang sebenarnya menggunakan data. Dan, Hans akan menunjukkan sepuluh naluri kita sebagai manusia yang harus kita ubah agar dapat memahami dunia sejernih mungkin. Gambar . World Health Chart tahun 2019. Sebuah penjelasan tentang data sebaran penghasilan suatu negara dengan rentang hidu...

Review Buku "How To Die" by Seneca | Sebuah Panduan Klasik Menjelang Ajal

               Seneca mencoba melepaskan diri kita dari belenggu ketakutan dan kengerian sebuah kematian. Dengan bukunya “How To Die”, Seneca mengajak kita dengan cara-cara klasik  –  bukan berarti saya mengajak pembaca mencobanya – kematian yang suci dan bebas dari tanggungan apapun. “How To Die” Seneca disampaikan dalam surat-surat yang ditulis dan ditujukan untuk sahabatnya hingga ibunya yang sedih ketika akan ditinggal oleh anaknya. Ditulis ketika ia sedang menderita penyakit suspirium yang pelan-pelan menyiksanya hingga ia merasa sakaratul maut akan menjemputnya. Ihwal-ihwal yang tertulis di dalamnya dimulai dari mempersiapkan diri, menjauhi rasa takut akan kematian, menghindari rasa penyesalan, membebaskan diri, menjadi satu kesatuan dari keutuhan, hingga melakukan semua hal yang pernah kita ucapkan dalam kehidupan.             “Bersiaplah untuk kematian”. Dengan tegasnya Sen...

Seperti Cerita Rosalind Franklin

 Seperti cerita Rosalind Franklin, seorang ilmuwati abad 20. Dengan ambisi yang gagah dan keganasan akan integrasi. Seperti cerita Rosalind Franklin, penggagas pengetahuan yang sering kali tercuri. Seperti Rosalind Franklin, berambisi tetapi dicurangi. Penuh ambisi. Tetapi, sering menjadi korban curian gagasan. Meski pandai, tapi bodoh berhubungan dengan manusia asing. Seperti Rosalind Franklin, itulah aku.

Factfulness oleh Hans Rosling - Sebuah Ungkapan

Setelah diriku membaca buku Factfulness, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh kita sebagai kaum abad 21. Khususnya, kita-kita yang masih dangkal dalam menanggapi dunia dan sosial semesta. Sepuluh perihal yang disampaikan. Tetapi, aku hanya mengambil sari-sari dari kesepuluhnya. Naluri kita seringkali melakukan kesalahan. Kita merasa bahwa sebagai manusia memiliki naluri yang paling manusiawi. Padahal semua naluri itu tidak pernah ada menjadi paling absolut di antara semua makhluk. Sebagai contoh, ketika kita menyikapi seorang pemulung yang dihabisi oleh beruang, kita sangat merasa iba -saya pribadi akan kasihan- seakan beruang adalah menjadi pelaku yang harus dihukum dan pemulung orang yang harus kita kasihani sejadi-jadinya. Tetapi, ketika kita dihadapkan juga kasus anak-anak hutan yang terlantar dan mati kelaparan kita menjadi sosok yang paling sok sibuk dan acuh untuk menyikapinya -mungkin hanya melihat dan iba dan selesai-. Ada kesenjangan dibalik naluri kita sebagai manusia....

Kirim E-mail

Semenjak diri ini menjadi merasa tidak penting dan berharga, banyak hubungan aku yang putus agar tidak menekanku ke jurang kerusakan mental. Diriku yang dulu masih tertanam di umur kepala dua. Mungkin saja ini adalah sebuah kejutan dari Tuhan atau cobaan-Nya. Atau mungkin ini adalah jalan yang harus kutempuh untuk mencapai takdir kedepan. Media sosial kumatikan. Aku mencoba untuk menutup gerbang-gerbang akses komunikasi. Terlebih beberapa orang yang aku coret dari hubungan komunikasi via WhatsApp. Kalau itu terjadi kepada pembaca, kirim ke e-mailku.  Siapa yang akan menghubungimu, Kun? Tidak ada! Terima kasih Ardani Riaziz E-mail : ardanisulung21@gmail.com

Tiga Desember Lagi

Lagi-lagi Tiga Desember Aku bingung harus apa Padahal, Nanda bukan milikku Itu kan masa lalu Benar, bukan? Apalagi tidak pernah ada ikatan Ardani yang licik Mengapa aku bingung, ya? Harusnya biasa saja, kan? Bodoh, Ardani! Diam saja kamu! Sudahlah! Kurayakan dengan menulis saja Maaf dengan janji-janjiku Oh iya, aku kan tidak harus meminta maaf Diam saja enak